Tetep Semangitt
Sugguh tak terkira jika pagi ini bakal menjadi pagi yang memuakkan. Tidak pula terkira saya bakal sebegitu kesal karena keteledoran mereka yang di atas. Sebab, kejadian seperti ini sejatinya sudah sering terjadi.
Tapi kali ini saya tak bisa lagi diam. Terlalu bosan membiarkan keteledoran terjadi. Selain itu, saya juga terlalu sering malu melihat tulisan sendiri yang tak lagi sesuai kondisi riil di lapangan. Yang saya tahu, ridak ada yang mau makan nasi yang dimasak dua hari kemarin bukan?
Begitulah, upaya menghindari keterlambatan dengan mengorbankan waktu libur sia-sia belaka. Tidak ada hasil kerja up to date yang disajikan. Bahkan ketika itu diminta atasan. Sungguh menjengkelkan.
Buat saya, persoalan ini tentu bukan semata soal gengsi. Bukan semata soal kapabilitas saya selaku penanggung jawab halaman sport lokal. Tapi secara keseluruhan akan berpengaruh pada oplah. Ingatlah bahwa yang dijual adalah informasi. Dan jika informasi yang ditawarkan basi, siapa mau beli?
Mungkin yang di Jakarta sana tidak peduli. Atau mungkin juga peduli tapi enggan repot. Sehingga bahan yang dikirim dua hari lalu masih saja dinaikkan tanpa konfirmasi. Kebiasaaan buruk yang selalu membuat repot bawahan.
Okelah, saya coba bersikap lebih tenang. Saya mencoba memahami tekanan yang mereka hadapi di sana. Tapi kesalahan yang sama seharusnya tidak terulang berkali-kali. Padahal tentu tidak mau mereka disebut bodoh.
Tapi, kalau maunya memang begitu olekah. Saya terima dan saya ikhlaskan saja. Walau pun hati kecil tetap menolak. Saya akan coba rileks agar tetap bisa semangat. Di hari berikutnya, semoga kejadian serupa tak terulang agar tak mempengaruhi mental kerja bawahan. Peka-lah kalian wahai atasan