comfortzone

Kegiatan ngopi pagi plus baca koran di kantor terasa lumayan bergairan, pagi kemarin. Ada artikel seorang konsultan yang sangat menarik tentang reaksi menghadapi kegagalan.

Paragraph demi paragraph saya lahap tulisan itu. Sampai pada kesimpulan yang dicetak miring bahwa life begins at the end of comfortzone. Bahwa kehidupan baru dimulai saat situasi nyaman berakhir. Justufikasinya adalah apa yang terjadi pada founder Apple, Steve Jobs.

Bagi saya, kesimpulan ini jelas menarik perhatian. Terutama saat saya sendiri butuh sejenis pencerahan untuk mencoba bangkit dari keterpurukan setelah merasa diri di atas awan. Situasi yang membuat saya sempat drop sekian lama. Bahkan sempat berpengaruh pada kinerja.

Mempelajari kisah kegagalan Steve lewat artikel itu nyatanya memberi banyak manfaat. Ini semakin menguatkan keyakinan bahwa kegagalan bukan akhir segalanya. Bahwa setelah kegagalan akan ada kesuksesan kapan pun ia datang, semuanya bergantung bagaimana kita mengevaluasi kesalahan yang dibuat.

Saya tidak ingin mengatakan saat ini, bahwa saya sudah dalam kondisi yang baik dengan serangkaian evaluasi, introspeksi dan kontemplasi. Sama sekali tidak. Sebaliknya, saya serasa kian tak jelas walau belum ada tanda-tanda semua akan segera berakhir. Dan itulah yang membuat gusar.

Saya tak berkecil hati. Jika kegagalan mampu membangkitkan Steve menjadi yang terbaik, tentu saya juga bias mengikuti jejaknya. Tidak ada yang tak mungkin bukan selama kita mau berusaha. Bahwa semakin keras usaha yang kita lakukan semakin dekat pula pada kesuksesan, saya rasa benar adanya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s