KOPI

Ada artikel menarik dalam salah satu harian nasional beberapa hari lalu. Artikel tentang kopi dengan julul ‘Indonesia Dalam Secangkir Kopi’. Artikel yang cukup menarik buat saya. Tentu saja karena saya juga gemar meminum kopi.

Saya tidak sendiri, jutaan orang di tanah air ini juga gemar minum kopi. Saking banyaknya penggemar kopi, bejubel merek dagang kopi di pasaran. Bisa berbentuk sachet atau kopi premium yang dijual di kafe-kafe elit di kota besar.

Di sini, bukan itu yang ingin saya tuliskan. Saya hanya ingin sedikit berkontemplasi setelah membaca beberapa artikel di koran itu maupun beberapa tulisan lain yang saya dapat setelahnya lewat media online.

Terus terang saja, membaca artikel tentang kopi membuat saya malu. Seolah ada yang membuat saya dalam posisi terpojok di muka umum. Padahal tak ada siapa-siapa karena saya membaca artikel itu sendirian. Lagi pula, tidak ada yang mempermalukan saya karena membaca artikel tentang kopi.

Tapi bagi saya, tidak sesimpel itu perkaranya. Sewaktu kecil saya hidup di salah satu daerah penghasil kopi di tanah air, yaitu Lampung. Orang tua yang merupakan perantauan dari Jawa Barat mengandalkan perkebunan kopi untuk menyambung hidup. Tiada hari tanpa bersentuhan dengan kopi.

Tidak lama memang saya tinggal di provinsi itu. Selepas SD saya hijrah ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan, bahkan sampai sekarang masih tinggal di pulau Jawa. Hanya berbeda provinsi saja. Kalau semula di Jawa Barat sekarang saya domisili saya di DIY. Orang tua tentu masih konsisten dengan pekerjaannya. Tak tega katanya meninggalkan pohon-pohon kopi terlantar.

Tulisan tentang kopi membuka memori saya di waktu kecil di sana. Saat beranjak dewasa, saya juga tak lupa, ketika orang tua saya sering sekali menyinggung pembicaraan tentang kopi. Tentang harga yang turun drastis. Tentang kesalahan memprediksi harga kopi di kala harganya menembus angka fantastis sebelum reformasi.

Dan belakangan tentang tanaman kopi yang siap digantikan karet karena dianggap sudah tidak prospektif lagi.Tapi dengan bantuan artikel-artikel yang saya baca, ada benang merah yang membuat saya kini lebih paham apa sebenarnya yang dihadapi petani seperti orang tua saya.

Kini setelah saya mulai sadar, saya malu. Setidaknya pada diri sendiri. Kenapa saya tidak peduli sejak awal? Kenapa pula saya tidak terlalu ambil pusing saat orang tua mengeluh harga jual yang rendah? Kenapa tak terpikirkan mencari jalan keluar dan memikirkan strategi yang lebih baik.

Mungkin seandainya sistem penjualan kopi tidak secara tradisional seperti yang lazim dilakukan membuat keadaan lebih baik. Atau setidaknya, bisa menyiasati fluktuasi harga yang tak menentu. Tapi rasanya belum terlambat untuk melakukan perubahan. Membuatnya lebih baik dan menjanjikan.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s