Melewati hari Minggu (4//9) kemarin terasa berat bagiku. Pertama, karena aku bangun kesiangan sekitar pukul 07.30. Lalu, kondisi fisikku hari itu juga tidak fit yang berpengaruh besar pada aktivitas yang aku lakukan berikutnya, pada hari itu.
Nyaaris, hari Minggu kemarin kuhabiskan di atas tempat tidur. Bagaimana tidak, setelah bangun kesiangan, aku bergegas mandi, setelahnya mencoba mencari sarapan karena perut terasa sangat keroncongan. Setelah itu kegiatan kembali ke semula, kembali ke tempat tidur, dan bermimpi kembali hingga pukul 14.00.
Setelah jam itu, aku baru bisa beraktivitas sedikit normal, menurutku. Setidaknya, setelah jam tersebut aku berangkat ke kantor, mengirimkan jatah tugasku, ngecek email, status dan lain-lain. Kegiatan dilanjutkan dengan membaca Koran seperti biasanya. Mencaria referensi untuk tulisan, sekaligus mencari bahan perbandingan tulisan-tulisan bagus.
Sore hari, aku menyempatkan diri nelpon calon pendampingku nun jauh di sana. Sekedar berbagi informasi tak penting. Ya informasinya memang tak penting, namun komunikasinya tetap saja penting untuk menjaga agar hubungan terjalin dengan baik. Juga untuk menghindari kesalahpahaman sekaligus menumbuhkan rasa saling percaya.
Seperti biasa, kegiatan selanjutnya adalah mandi, lalu membuat catatan-catatan kecil, mendengarkan music, dan menunggu Maghrib tiba.
Selepas Maghrib, kepalaku terasa pening. Mungkin suntuk terlalu banyak tidur, atau mungkin juga suntuk karena tidak ada kegiatan menonjol yang aku lakukan hari itu.
Aku bergegas menuju kamr Mbah Imam. Kucari remot televisi dan segera kunyalakan. Tayangan di tv masih seputar gempa Sumatera. Namun ada juga yang sudah menayangkan sinetron tak berguna. Jujur aku muak melihatnya. Ada juga yang bersiap menayangkan balapan. Itu saja….
Tak menemukan acara bagus, aku memutuskan menunggu hingga pukul19.00. pada hari Minggu, di jam tersebut ada acara bagus yang sangat inspiratif. Yaitu Golden Ways Mario Teguh. Aku menjadi salah satu penggemar acara itu.
Terang sja, setelah pukul 19.00 acara segera dimulai. Tema kali ini adalah Saya+Tuhan =Cukup.
Saya tidak paham apa maksudnya, meski bisa sedikit membayangkan arahnya. Saya bermakna luas, namun saya adalah sya di masa ini, bukan saya di masa lalu. Karenanya, jika saya saat ini saya masih dibarengi sifat-sifat buruk, angkuh, sombong, maka sya masih menjadi saya masa lalu. Bukan saya masa kini. Saya masa kini, saya saat ini adalah saya sebagai pribadi yang bersih dari sifat-sifat buruk itu.
Saya+Tuhan= Cukup. Banyak juga hadirin yang tidak setuju dengan pendapat itu. Ada yang bilang, jika hanya saya dan Tuhan, maka kita menafikan peran orang lain di sekitar kita. Jawabnya, saya plus Tuhan sama dengan cukup, karena saya yang bersih plus Tuhan akan melahirkan sifat-sifat terpuji. Saya akan berani, saya akan peduli an seterusnya. Jika sudah begitu, orang di sekeliling pun akan bangga. Dan karenanya, saya bisa berperan lebih untuk orang lain…………………………..
Lalu kapan itu cukup. Itu cukup kalau kita benar-benar hanya menyerahkan semuanya pada Tuhan. Dalam doa, kita meminta pada Tuhan. Agar doa itu dikabulkan, kita hanya meminta kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Tidak meminta kepada orang lain, meminta kepada oknum lain yang akan menyaingi Tuhan.
Saya plus Tuhan sama dengan cukup, saat kita bisa membagikan dan memberikan pemberian-Nya kepada orang lain. Orang yang tidak pernah member, selalu merasa harus mempertahankan apa yang dimilikinya. Dan orang yang gemar memberi, selalu merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya….
Karena itu, semakin banyak memberi semakin mudah mendapakannya. Dan itu benar. Sungguh sangat-sangat benar… Aku tak pernah meyangsikan hal itu….
Namun, saya+Tuhan=cukup memang tidak mudah. Aku kira perlu latihan terus menerus agar bisa menerapkan formula ini……