Tetep Semangitt

Posted in kontemplasi on 15/11/2011 by sodix

 

Sugguh tak terkira jika pagi ini bakal menjadi pagi yang memuakkan. Tidak pula terkira saya bakal sebegitu kesal karena keteledoran mereka yang di atas. Sebab, kejadian seperti ini sejatinya sudah sering terjadi.

Tapi kali ini saya tak bisa lagi diam. Terlalu bosan membiarkan keteledoran terjadi. Selain itu, saya juga terlalu sering malu melihat tulisan sendiri yang tak lagi sesuai kondisi riil di lapangan. Yang saya tahu, ridak ada yang mau makan nasi yang dimasak dua hari kemarin bukan?

Begitulah, upaya menghindari keterlambatan dengan mengorbankan waktu libur sia-sia belaka. Tidak ada hasil kerja up to date yang disajikan. Bahkan ketika itu diminta atasan. Sungguh menjengkelkan.

Buat saya, persoalan ini tentu bukan semata soal gengsi. Bukan semata soal kapabilitas saya selaku penanggung jawab halaman sport lokal. Tapi secara keseluruhan akan berpengaruh pada oplah. Ingatlah bahwa yang dijual adalah informasi. Dan jika informasi yang ditawarkan basi, siapa mau beli?

Mungkin yang di Jakarta sana tidak peduli. Atau mungkin juga peduli tapi enggan repot. Sehingga bahan yang dikirim dua hari lalu masih saja dinaikkan tanpa konfirmasi. Kebiasaaan buruk yang selalu membuat repot bawahan.

Okelah, saya coba bersikap lebih tenang. Saya mencoba memahami tekanan yang mereka hadapi di sana. Tapi kesalahan yang sama seharusnya tidak terulang berkali-kali. Padahal tentu tidak mau mereka disebut bodoh.

Tapi, kalau maunya memang begitu olekah. Saya terima dan saya ikhlaskan saja. Walau pun hati kecil tetap menolak. Saya akan coba rileks agar tetap bisa semangat. Di hari berikutnya, semoga kejadian serupa tak terulang agar tak mempengaruhi mental kerja bawahan. Peka-lah kalian wahai atasan

comfortzone

Posted in kontemplasi on 13/11/2011 by sodix

Kegiatan ngopi pagi plus baca koran di kantor terasa lumayan bergairan, pagi kemarin. Ada artikel seorang konsultan yang sangat menarik tentang reaksi menghadapi kegagalan.

Paragraph demi paragraph saya lahap tulisan itu. Sampai pada kesimpulan yang dicetak miring bahwa life begins at the end of comfortzone. Bahwa kehidupan baru dimulai saat situasi nyaman berakhir. Justufikasinya adalah apa yang terjadi pada founder Apple, Steve Jobs.

Bagi saya, kesimpulan ini jelas menarik perhatian. Terutama saat saya sendiri butuh sejenis pencerahan untuk mencoba bangkit dari keterpurukan setelah merasa diri di atas awan. Situasi yang membuat saya sempat drop sekian lama. Bahkan sempat berpengaruh pada kinerja.

Mempelajari kisah kegagalan Steve lewat artikel itu nyatanya memberi banyak manfaat. Ini semakin menguatkan keyakinan bahwa kegagalan bukan akhir segalanya. Bahwa setelah kegagalan akan ada kesuksesan kapan pun ia datang, semuanya bergantung bagaimana kita mengevaluasi kesalahan yang dibuat.

Saya tidak ingin mengatakan saat ini, bahwa saya sudah dalam kondisi yang baik dengan serangkaian evaluasi, introspeksi dan kontemplasi. Sama sekali tidak. Sebaliknya, saya serasa kian tak jelas walau belum ada tanda-tanda semua akan segera berakhir. Dan itulah yang membuat gusar.

Saya tak berkecil hati. Jika kegagalan mampu membangkitkan Steve menjadi yang terbaik, tentu saya juga bias mengikuti jejaknya. Tidak ada yang tak mungkin bukan selama kita mau berusaha. Bahwa semakin keras usaha yang kita lakukan semakin dekat pula pada kesuksesan, saya rasa benar adanya.

 

 

Resolusi

Posted in kontemplasi on 09/10/2011 by sodix

Tahun 2011 serasa berjalan begitu cepat. Tak terasa, sudah memasuki bulan Oktober. Selang dua bulan tahun akan berganti dengan tahun yang baru. Artinya harus ada perencanaan, resolusi, target baru lagi untuk tahun berikutnya.

Bagi saya ini penting, meski pun perencanaan itu lebih sering menguap begitu saja tak lama setelah dirumuskan. Berlum juga dijalankan, saya lupa dengan rencana dan resolusi yang dibuat. Hasilnya, tidak ada progress apa pun hingga resolusi baru siap dijalankan.

Seperti tahun lalu, tahun ini, koondisinya nyaris tak banyak berubah. Saya hanya sibuk dengan rutinitas ‘mendulang’ lembaran-lembaran rupiah. Yang berbeda, kali ini perjuangan mendapatkan dhuwit lebih keras setelah adanya tanggungan yang harus dinafkahi.

Di luar itu belum ada perbedaan yang mencolok. Sedikit usaha yang coba saya rintis pada kuartal pertama tahun ini gagal setelah berjalan enam bulan. Tidak ada upaya menghidupkannya lagi masalah yang teramat kompleks. Hanya evaluasi agar kejadian serupa tak terulang lagi di kemudian hari.

Dan sekarang, masih ada sisa waktu dua bulan untuk membuat perubahan. Saya dituntut lebih creative mencari lahan tambang yang lebih subur. Gagal menempuh satu jalan, tidak akn membuat jalan lainnya tertutup. Tidak ada jalan buntu untuk meraih sukses. Setidaknya itulah yang harus saya pegang.

Pun tidak ada sukses yang diraih tanpa kerja keras dan cerdas. Keras saja tentu tak cukup. Sinergi otot-otak harus isa dimaksimalkan. Karena itulah kita dipercaya menjadi khalifah di bumi ini. Jangan lupa, istiqomah menjalankan resolusi yang sudah dibuat!!!

Think!!

Posted in kontemplasi on 27/09/2011 by sodix

Kompetisi sepakbola nasional belum lagi dimulai. Rutinitas wira-wiri antar stadion belum lagi bisa dilakukan. Kalau pun iya, paling hanya nonton tim-tim yang sedang seleksi pemain atau latihan rutin saban pagi dan sore.

Kegiatan ini sebenarnya cukup nyenangin. Tapi kalau dilakoni terus-terusan, rasanya jenuh juga. Butuh kegiatan lain yang bisa membuat suasana tetap menyenangkan. Setidaknya tidak terus-terusan berkubang dana suasana suntuk.

Dulu, setengah tahun yang lalu suasananya memang beda. Karena saya punya warung makan yang harus ditunggu. Ya kalau pun enggak saya bisa nemenin karyawan ngejagain warung. Tapi sekarang sudah gak bisa lagi. Warung saja sudah tutup karena tidak ada yang jaga.

Untuk menyiasati kegiatan yang hilang, saya harus berpikir keras mencari alternatif. Terbayang beberapa kegiatan yang rasanya cukup menjanjikan jadi side job. Tapi setelah dikalkulasi ternyata harus terpaksa ditahan karena terbentur anggaran.

Seminggu, dua minggu , sebulan, dua bulan alternative yang dicari enggak ketemu juga. Saya hamper nyerah, meski masih ada sedikit harapan. Paling tidak saya masih bisa berpikir tarsus mencari altenatif. Soala ketemu atau tidak, terserah nanti saja. Asa itulah yang sedang saya coba pertahankan sekarang.

Saya tak ingin kehilangan asa. Sya takut jenuh membunuh saya. Padahal, saya harus bisa lebih baik, lebih progresif untuk menjaga agar dapur tetap ngebul. Agar kebutuhan si kecil Najwa Callysta dan ibunya tetap terpenuhi. Saya selalu berbidik dalam hati think!!berpikirlah!!! dan saya terus mencoba melakukannya.

KOPI

Posted in kontemplasi on 21/09/2011 by sodix

Ada artikel menarik dalam salah satu harian nasional beberapa hari lalu. Artikel tentang kopi dengan julul ‘Indonesia Dalam Secangkir Kopi’. Artikel yang cukup menarik buat saya. Tentu saja karena saya juga gemar meminum kopi.

Saya tidak sendiri, jutaan orang di tanah air ini juga gemar minum kopi. Saking banyaknya penggemar kopi, bejubel merek dagang kopi di pasaran. Bisa berbentuk sachet atau kopi premium yang dijual di kafe-kafe elit di kota besar.

Di sini, bukan itu yang ingin saya tuliskan. Saya hanya ingin sedikit berkontemplasi setelah membaca beberapa artikel di koran itu maupun beberapa tulisan lain yang saya dapat setelahnya lewat media online.

Terus terang saja, membaca artikel tentang kopi membuat saya malu. Seolah ada yang membuat saya dalam posisi terpojok di muka umum. Padahal tak ada siapa-siapa karena saya membaca artikel itu sendirian. Lagi pula, tidak ada yang mempermalukan saya karena membaca artikel tentang kopi.

Tapi bagi saya, tidak sesimpel itu perkaranya. Sewaktu kecil saya hidup di salah satu daerah penghasil kopi di tanah air, yaitu Lampung. Orang tua yang merupakan perantauan dari Jawa Barat mengandalkan perkebunan kopi untuk menyambung hidup. Tiada hari tanpa bersentuhan dengan kopi.

Tidak lama memang saya tinggal di provinsi itu. Selepas SD saya hijrah ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan, bahkan sampai sekarang masih tinggal di pulau Jawa. Hanya berbeda provinsi saja. Kalau semula di Jawa Barat sekarang saya domisili saya di DIY. Orang tua tentu masih konsisten dengan pekerjaannya. Tak tega katanya meninggalkan pohon-pohon kopi terlantar.

Tulisan tentang kopi membuka memori saya di waktu kecil di sana. Saat beranjak dewasa, saya juga tak lupa, ketika orang tua saya sering sekali menyinggung pembicaraan tentang kopi. Tentang harga yang turun drastis. Tentang kesalahan memprediksi harga kopi di kala harganya menembus angka fantastis sebelum reformasi.

Dan belakangan tentang tanaman kopi yang siap digantikan karet karena dianggap sudah tidak prospektif lagi.Tapi dengan bantuan artikel-artikel yang saya baca, ada benang merah yang membuat saya kini lebih paham apa sebenarnya yang dihadapi petani seperti orang tua saya.

Kini setelah saya mulai sadar, saya malu. Setidaknya pada diri sendiri. Kenapa saya tidak peduli sejak awal? Kenapa pula saya tidak terlalu ambil pusing saat orang tua mengeluh harga jual yang rendah? Kenapa tak terpikirkan mencari jalan keluar dan memikirkan strategi yang lebih baik.

Mungkin seandainya sistem penjualan kopi tidak secara tradisional seperti yang lazim dilakukan membuat keadaan lebih baik. Atau setidaknya, bisa menyiasati fluktuasi harga yang tak menentu. Tapi rasanya belum terlambat untuk melakukan perubahan. Membuatnya lebih baik dan menjanjikan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.