Membingungkan

Posted in politika on 24/11/2009 by sodix

 

Setelah ditunggu-tunggu akhirnya keputusan presiden menanggapi rekomendasi tim delapan terkait kasus yang menimpa wakil ketua KPK nonaktif Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto diumumkan, Senin (23/11), tadi malam. Sebuah keputusan yang diharapkan jutaan warga menjadi titik balik perbaikan hukum di negra ini.

Keputusan Presiden memang sudah final. Keputuan itu mengakhiri polemik yang berkembang berbulan-bulan mengenai perseteruan Cicak Vs Buaya. Namun ada poin keputusan presiden yang perlu mendapat perhatian.

Pernyataan Presiden untuk menghantikan kasus yang menimpa Chandra-Bibit namun menyelesaikannya di luar jalur pengadilan, sangat membingungkan. Presiden sebenarnya bisa saja menghentikan kasus ini, atau memutuskan menuntaskannya hingga ada titik terang dan terbukti di pengadilan siapa yang salah.

Namun persoalannya tak semudah itu. Menghentikan perkara dan menyelesaikan kasus kasus yang menyita perhatian publik berbulan-bulan di luar pengadilan, tentu menimbulkan tanda tanda tanya sekaligus kekhawatiran baru. Tanda tanya muncul mengenai sikap Presiden yang seolah setengah hati menyelesaikan kasus ini.

Akhir yang samar-samar menunjukkan ada sesuatu yang disembunyikan atau sengaja dilindungi. Masyarakat, hanya disuruh kembali menerka apa gerangan yang disembunyikan itu.

Sementara kekhawatiran wajar muncul ke permukaan. Apalagi sebelumnya Presiden memanggil pimpinan KPK ke Istana Negara.  Dikhawatirkan pemangilan itu untuk menghasilkan deal-deal baru sehingga penyelesaikan di luar pengadilan menjadi langkah untuk merangkul kembali KPK dan menyelamatkan Polri dan Kejaksaan.

Ini mungkin opsi yang dianggap relative lebih aman, ketimbang menyelesaikan perkara ini di meja hijau. Opsi ini mungkin terlalu beresiko, jika ternyata tuduhan yang dialamatkan untuk kedua pimpinan nonaktif ini ternyata tidak terbukti.

Di luar semua itu, sikap presiden perlu mendapat apresiasi posisif terutama terkait kasus Bank Century. Kasus ini tak kalah heboh karena melibatkan orang-orang penting, yang juga berada di lingkaran SBY.  Dengan keputusan ini, diharapkan uang negara sebesar Rp 6,7 triliun yang tak jelas nasibnya, dapat segera dikembalikan.

Kini semua tinggal berharap apa yang akan terjadi beriakutnya. Semoga saja Presiden, tidak lagi bersikap membingungkan dalam menyelesaikan perkara terutama untuk memperbaiki aparat penegak hokum. Kasus pimpinan nonaktif KPK ini kiranya menjadi yang terakhir diselesaikan dengan sikap dan keputusan membingungkan.

Gak Bisa Fokus

Posted in rada serius on 16/11/2009 by sodix

Tak terasa waktu beputar begitu cepat. Sepertinya baru kemarin saya lihat tanggal 1 November di kalender yang tergantung di dinding kamar. Tiba-tiba hari ini sudah tanggal 16, pertengahan bulan. Kaget sekali rasanya, sekaligus enggak habis berpikir, apa saja yang telah saya lakukan dalam dua minggu ini. Adakahsesuatu yang besar telah aya lakukan atau justru sebaliknya.

Sangat wajar rasanya ketika saya bertanya, setidaknya pada diri sendiri karena saya merasa perjalanan ini datar-datar saja. Waktu berputar sangat cepat tapi tak ada sesuatu yang dapat dibanggakan selama waktu yang telah dilewati itu. Entah benar atau tidak, yang pasti begitulan yang saya rasakan belakangan ini.

Parahnya lagi, selama dua minggu terakhir ini pun  tak banyak yang dapat saya lakukan. Rutinitas tulis menulis sekedar mencurahkan kepenatan, ngisi kekosongan dan mencoba berpikir lebih baik pun tak lagi dapat dilakukan. Konsentrasi saya terganggu, sangat terganggu sehinga sangat kesulitan untuk fokus.

Sehari-hari, kegiatan saya biarkan saja seperti apa adanya. Bangun pagi, sejenak mendengarkan musik atau info pagi, lalu berangkat kerja hingga sore, ngantor lalu pulang. Malam harinya, kalau enggak nongkrong menikmati beberapa cangkir kopi, mendengrkan musik lagi, atau tidur pules.

Sebenarnya saya sendiri enggak tahu pasti kenapa sulit sekali rasanya berkonsentrasi, pada dua minggu ini. Kalau sebebnya karena banyak masalah, saya kira enggak juga. Toh semua orang pasti punya masalah, dan masalah tentu tidak akan pernah hilang begitu saja. Tinggal tergantung bagaimana menyikapinya.

Pun kalau penyebabnya karena soal finansial, saya kira juga tidak. Karena meski tidak punya dana berlebih, Alhamdulillah untuk makan saja tidak kekurangan. Malah kadang-kadang masih sempet mbayari temen juga.

Namun, ya apa pun penyebabnya saya ingin segera kembali pada keadaan normal. Kembali bisa berpikir baik, berpikir konstruktif fokus dan menjalankan kembali program-program yang telah tersusun baik-baik. Dan akhirnya kembali ke jalan yang benar. Fokus fokus fokus.

 

Dukungan Facebookers

Posted in politika on 10/11/2009 by sodix

Perseteruan antara kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPk) semakin ramai. Berbagai pihak menyampaikan keprihatinan atas kasus ini. Demikian pula dengan langkah beberapa tokoh masyarakat yang mulai pasang badan untuk mengindari lebih jauh campur tangan penguasa atas kasus ini.

Perkembangan kasus ini pun menjadi topic pembahasan hangat hampir semua lapisan mayarakat. Di dunia maya, perseteruan ini pun megemuka. Ujungnya adalah adanya dukungan moral bagi kedua pimpinan KPK nonaktif Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah yang ditahan kepolisian melalui facebook.

Seperti respon yang pernah terjadi pada kasus Prita Mulyasari Vs RS Omni Internasional, di mana dukungan moral melalui situs pertemanan facebook mengalir begitu derasnya. Pada kasus Bibit Chandra, juga demikian. Hanya selang beberapa jam grup dukungan untuk Bibit Chandra dibuka, mampu menjaring ratusan ribu dukungan bagi keduanya dari para pengguna facebook.

Salah satu pengguna facebook yang juga pendukung grup, saat ditanya reporter salah satu stasiun tv swasta menyatakan, dukungan untuk pimpinan KPK disalurkan melalui grup di facebook karena tidak ada medium lainnya. Menurut dia, jika saja ada yang mengkoordinir aksi untuk turun ke jalan atau aksi lainnya, maka dengan senang hati dia akan ambil bagian di  dalamnya.

Dukungan para pengguna situs pertemanan facebook untuk kedua pimpinan KPK nonaktif memberikan angin segar. Setidaknya masyarakat kini sudah mampu melihat dan menilai sebuah peristiwa secara kritis. Masyarakat kini lebih intens mengikuti perkembangan informasi, memantau perilaku penguasa dan mengkritisinya saat ada yang dirasa tidak sesuai.

Memang berulang kali, secara bergantian semua pihak yang terkait kasus Bibit Chanda saling tuding, sling lempar dan saling bantah. Bahkan masing-masing telah menyiapkan alibinya sendiri-sendiri. Namun lagi-lagi, masyarakat kini sudah pandai, sudah bisa memilah dan memilih mana yang benar dan tidak. Masyarakat pun kini tak bisa lagi diakali dengan pernyataan-pernyataan klise yang terus diulang-ulang.

Kini semua tinggal menunggu akhir perseteruan ini.  Apakah penguasa akan bertindak bodoh lagi dan terus beralibi menghindari tanggung jawab. Atau berbalik haluan kembali ke jalan yang benar dan mengakui kekeliruannya. Untuk yang terakhir rasanya sulit terwujud. Pasalnya, akan merugikan sangat banyak pihak terutama mereka yang kini duduk di kursi kekuasaan.

Tentunya tidak aka nada yang rela melepaskan kekuasaannya. Apa pun hasilnya, dukungan para facebookers menjadi awal yang baik untuk menunjukkan betapa masyarakat tidak mudah dibodohi penguasa.

 

Si Merah

Posted in self titled on 23/10/2009 by sodix

Setelah seharian istirahat total untuk memulihkan kondisi fisik pasca kecelakaan Rabu lalu, hari Jumat (23/10) ini, saya kembali beraktivitas seperti biasa. Muter-muter keliling kota, desa di Bantul mencari informasi yang dinilai layak diketahui publik.

Hany saya kali ini saya harus merelakan diri berangkat agak siang, maklum harus nunggu jemputan dulu. Si merah yang biasanya menemani, belum pulih benar fisiknya, dan masih nginep di bengkel.

Rencananya siang nanti, si merah akan saya ambil. Setelah itu, kembali digunakan seperti sebelumnya.

Memang ada niatan untuk mengandangkan saja kendaraan itu. Kata orang. Kalau kendaraan sudah dibawa jatuh maka akan terus begitu. Tapi saya enggak peduli, selain karena itu kendaraan satu-satunya yang saya gunakan, saya terlanjut sayang dan cocok dengannya.

Kecelakaan kemarin juga bukan sepenuhnya karena faktor kendaraan, melainkan pengendara dari belakang yang sembarangan.

Saya dan si merah seolah menjadia pasangan serasi yang tak mungin dipisahkan. Si merah adalah madu saya. Namun dia tak pernah mrah, tak pula rewel mintaa ini itu. Mungkin karena saya selalu memperlakukannya dengan baik, selalu memanjakannya.

Apa pun kata orang, saya berketetapan hati tidak menjualnya atau mengandangkannya. Si merah adalah sahabat yang selalu setia menemani.

Menunggu Pemimpin Pilihan

Posted in politika on 23/10/2009 by sodix

Mengamati perkembangan politik di Kabupaten Bantul menjelang pemilihan kepala daerah itu pada Mei 2010, sungguh menarik. Tarik ulur kepentingan semakin terasa. Demikian pula dengan peta dukungan yang terus meruncing pada beberapa nama.

Hingga saat ini, setidaknya ada beberapa nama yang muncul ke permukaan. Selain sri suryawidati, istri Bupati Bantul saat ini Idham Samawi, Joko Purnomo yang menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Bantul, serta Sumarno PRS selaku dewan Pembina DPD Golkar.belakangan, muncul lagi nama GKR Hemas, permaisuri Raja Keraton Jogjakarta serta Gendut Sudarto yang saat ini menjadi sekda Bantul.

Salah seeorang fungsionaris partai mengatakan, munculnyabeberapa nama belakangan ini menjadi pertanda baik bagi proses demokrasi. Dia beralasan, semakin banyak calon yang maju akan memberikan pilihan yang lebih variatif bagi masyarakat yang dianggap sesuai dengan aspirasinya.

Aksi dukung mendukung pun tak kalah panasnya. Beberapa elemen masyarakat telah menyatakan dukungan bagi salah satu nama yang muncul. Yang bersangkutan, telah pula mengklaim didukung setidaknya 8 partai politik dan berbagai organisasi masyarakat (ormas) besar di Bantul

Apa itu benar, hanya dia yang tahu. Pasalnya, yang bersangkutan tak mau memberikan penjelasan partai mana saja yang siap mendukungnya, dan ormas mana saja yang siap berafiliasi dalam barisannya.

Di tingkat bawah, hingga menengah, aksi saling berebut pengaruh pun mulai menggeliat. Beberapa yang memiliki kepentingan mulai unjuk gigi dengan mengerahkan dan mengarahkan massa pada salah satu nama. Jika mau berhitung realisitis, upaya itu memang yang terlihat paling menguntungkan saat ini.

Atas nama rakyat kecil, para koordinator massa ini mempromosikan ‘jago’nya. Berbagai kegiatan pun digelar, mulai dari silaturahmi hingga penyerahan bantuan yang disisipi kampanye terselubung. Parahnya lagi, kegiatan-kegiatan itu berbau penyimpangan wewenang.

Bagi mereka yang tak peduli, mungkin tak menjadi soal. Namun bagi yang lai, kegiatan itu sungguh memprihatinkan meski memang lumrah terjadi. Kini tinggal bagaimana masyarakat menentukan pilihan. Bagaimana masyarakat bersikap cerdas dan bijak dalam menentukan siapa yang layak menjadi pemimpin mereka.

Nama besar saja kiranya tidak cukup untuk menjadi pemimpin tanpa kemampuan manajerial yang baik. Seorang pemimpin tidak hanya menjadi simbol bagi daerahnya, melainkan juga harus mampu membangkitkan semangat pengikutnya, menginspirasi mereka agar terus maju dan mengembangkan diri.

Seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi masyarakat luas, baik pendukung maupun penentangnya. Dengan begitu, dia akan menjadia pemimpin bagi semuanya.

Hari Rabu yang Naas

Posted in rada eling on 23/10/2009 by sodix

Hari Rabu (21/10) pagi, saya jalani seperti biasa. Bangun pagi, ngopi item bersama plus dua batang rokok LA merah, lalu berangkat beraktivitas. Saya tak tahu kalau hari itu adalah hari naas buat saya.

Seperti hari-hari sebelumnya, sesampainya di gedung DPRD Bantul saya menyempatkan diri baca Koran. Selain menambah informasi juga untuk menggali inspirasi pagi, sebagai bahan referensi. Beberapa ide muncul, namun belum dilakukan karena berbagai kendala. Kegiatan pagi itu akhirnya hanya duduk-duduk santai di depan gedung sembari menunggu rapat gabungan TAPD-DPRD selesai.

Tak lama berselang, telepon seluler berbunyi. Seorang kawan memberitahukan belasan siswa sebuah SMK mengalami kesurupan. Tanpa pikir panjang, saya dan dua orang lainnya bergegas menuju lokasi yang disebutkan. Di sana sudah ada beberapa orang berkumpul, sebagian lainnya sibuk mengumpulkan data dan mengambil gambar.

Saya yang baru tiba segera megabadikan momen itu dalam lensa kamera dan mengumpulkan data sebagai bahan berita. Setelah hampir satu jam di sana, kami memutuskan kembali ke dewan melanjutkan ide awal yang belum sempat tergarap.

Tak ada firasat apa pun saat itu. Saya mengendarai Jupiter Z saya dengan santainya. Maklum selain karena berboncengan, saat itu, saya berpikir tak perlu tergesa-gesa karena suda punya beberapa bahan berita yang belum digarap sebelumnya. Arus kendaraan di sepanjang Jalan Parangtritis, Bantul siang itu tak terlalu ramai. Di depan saya ada beberapa kendaraan roda dua. Ada yang ngebut, dan banyak juga yang santai.

Salah satu kendaraan merek Honda Astrea rupanya hendak berbelok arah kanan tiba-tiba. Karena tak menghidupkan lampu sein, kendaraan dibelakangnya yang juga Honda namun jenis Mega Pro mencoba menghindar dengan menggoyang kendaraan ke sisi kanan. Saya pun demikian, karena tak ingin menabrak Honda Astrea di depan saya.

Saat itu, saya lega karena berhasil melewati kendaraan itu. Namun saya tersentak kaget karena tiba-tiba kendaraan saya oleng dan terjatuh, terlempar beberapa meter dari tempat semua. Rupanya sebuah Suzuki Smash menghantam bagian belakang motor saya dari sisi kiri, karena saya tak melihat ada kendaraan di sisi kanan saya dari spion.

Kami terjatuh, dan ditolong beberapa warga yang kebetulan ada di lokasi. Awalnya saya lihat kendaraan saya tidak apa-apa. Hanya ada beberap yang rusk. Saya dan rekan saya juga sama, hanya mengalami sedikit lecet-lecet di tangan dan kaki. Saya pun memutuskan menganggap selesai saja peristiwa itu. Namun penabrak saya, tidak mau begitu, dia ingin agar persoalan itu diselesaikan orang tuanya. Saya menunggu.

Beberapa saat kemudian orang tuanya datang. Persoalan pun dibicarakan. Saya terus terang tak enak hati meski saya tahu saya di posisi yang benar. Akhirnya saya kembali memeriksa kondisi motor saya. Saya cek satu demi satu fisiknya, mesinnya dan seterusnya. Motor masih bisa menyala dengan baik. Namun spatbor belakang ternyata patah. Lampu rem, sein belakang hancur. Body sebelah kiri juga rusak.

Dudukan spion di depan juga patah. Pelek belakang bengkok. Dan kondisi motor pun tak senter lagi. Setelah dibicarakan, akhirnya orang tua penabrak sanggup mengganti sepatuh keruskan. Tanpa pikir panjang saya menyetujuinya. Saya pikir, tak ada salahnya menerima penawaran itu apalagi secara langsung orang tuanya menunjukkan tanggung jawab dan niat baik.

Motor saya bawa ke bengkel Yamaha di Jalan Bantul. Seteleh dikalkulasi perbaikan sementara diperkirakn menelan biata Rp 850 ribu lebih, entah kalau ada ambahan lagi lainnya. Perbaikan diperkirakan selesai dalam waktu 3 hari. Kami sepakat, biaya keruskan ditanggung 50:50 dan kami kembali bertemu saat pelunasan motor.

Meski begitu saya masih bisa bersyukur karena kerusakan masih dapat diperbaiki, dan kondisi badan saya tidak terlampau parah. Saya yakin ada hikmah di balik semuanya. Dan semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga buat saya sendiri terutama, di kemudian hari.

Kopi Item —

Posted in radaserius on 14/10/2009 by sodix

Beberapa saat setelah bangun di pagi hari biasanya, saya mencoba menyegarkan pikiran dengan mendengarkan musik. Kadang melalui radio, dan kadang melalui notebook, tergantung mood pada saat itu. Kalau sedang malas, biasanya saya hanya mendengarkan musik melalui radio sembari tiduran di atas kasur.

Tapi kalau sedang semangat dan ingin mendengarkan lagu-lagu tertentu, saya sengaja menyalakan notebook dan memilih lagu-lagu yang sanya anggap cukup inspiratif dan mampu membangkitkan semangat di pagi hari.

Kebiasaan seperti itu sudah lama sekali saya jalani, dan saya merasa cukup enjoy sekaligus terbantu dengan semua itu. Tapi, tetap saja ada satu hal yang tak bisa ditinggalkan mendampingi semuanya, yaitu secangkir kopi item.

Kopi item tampaknya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup saya. Bagaimana tidak, badan bisa terasa tidak karuan jika di siang hari saya tidak sempat menemukan segelas kopi item. Begitu juga di malam hari, ada yang kurang rasanya kalau tidak sempat meminum secangkir saja kopi item.

Saya sendiri mafhum saja dengan kebiasaan ini, mungkin karena memang sudah berlangsung sejak saya kecil dan masih tinggal di Lampung dulu. Di mana ngopi item menjadi suguhan utama saat bertamu ke rumah tetangga atau siapa saja di sana. Tidak ada teh anget, tidak ada yang lainnya selain kopi item.

Kadang kala, kalau dalam sehari saja bertamu ke lima rumah, maka lima gelas kopi item yang akan didapat sebagai suguhan. Tentu saja di luar camilan, berupa makanan kecil semisal gorengan dan sebagainya.

Ketika saya mulai menjalani hari-hari di Kota Gudeg, Jogja karena menempuh pendidikan di daerah ini, saya sempat meninggalkan kebiasaan ngopi meski tak sampai 100 persen. Kadang-kadang saya masih juga menyempatkan diri ngopi. Tapi kopi item diganti kopi sachetan yang dengan mudah bia didapat dari warung.

Kebiasaan ngopi item saya tinggalkan bukan tanpa alasan. Di sini, saya tak bisa menemukan kopi item yang rasanya istimewa. Tidak ada satu pun warung kopi yang bisa menyediakan kopi item yang rasanya sepeperti kopi buatan ibu saya, setidknya aroma kopinya begitu. Yang ada hanya kopi kapal api, dan lagi-lagi kapal api.

Agi sebagian orang, mungkin tidak ada perbedaan apakah itu kopi buatan sendiri atau kopi kapal api produuksi pabrik yang diminum. Asal bernama kopi item, tak masalah. Tapi bagi sya, tidak begitu. Aa sensasi tersendiri ketika menikmati secangkir kopi. Kopi dengan olahan sendiri memiliki keistimewaan dibandingkan kopi pabrik yang diproduksi secara massal.

Aroma kopi buatan sendiri lebih enak, rasanya pun lebih terasa, sangat terasa. Jadi, ada yang timpang rasanya ketika kopi made in sendiri harus digantikan kopi pabrik. Tapi itu pun tak akan terjadi lagi pada saya, karena sekarang saya sudah memiliki stok kopi item buatan ibu saya.

Mari ngopi item bareng…………………..

Rezeki Allah –

Posted in radaserius on 14/10/2009 by sodix

Membaca salah satu tulisan di harian Kompas, Selasa (6/10) sungguh membuat saya terenyuh dan malu. Judul tulisan sangat menarik, tajam dan menggugah perasaan, “Hilang Rezeki Dari Allah Jika Kami Tak Bekerja”,.

Membaca judulnya saja, saya sudah merasa malu dengan diri sendiri. Malu karena kadang-kadang tak mampu mensyukuri anugerah kesehatan yang dilimpahkan-Nya dengan melakukan hal-hal positif dan berguna bagi sesama. Melakukan kegiataan untuk kepentingan sendiri saja, kadang saya malas.

Tapi di sini, saya merasa terkena pukulan telak yang dilesakkan tepat mengenai ulu hati. Saya tak mampu berbuat apa-apa. Saya lemah, sempoyongan, dan terjatuh tak kuasa lagi menahan beban tubuh. Saya kalah.

Di Padang sana, di daerah yang sedang terkena musibah gempa dengan kekuatan 7,9 skala richter, orang masih mampu menyadarkan orang lain. Guncangan gempa tak membuat Kasman putus asa. Dia tetap tegar, tetap menjalankan rutinitasnya meski dalam keterbatasan.

Dia tak mengeluh ketika harus berjalan kaki sejauh 10 kilometer untuk mengais rezeki. Dia juga masih mampu berpikir logis dan tegar. Dia yakin, Tuhan tidak akan membebani hambanya di luar batas kemampuannya.

Di tengah kondisi serba kacau seperti itu memang tidak terlalu banyak orang seperti Kasman. Orang –orang tengah sibuk dengan urusannya masing-masing, mencari keluarga yang hilang, mencari bantuan untuk menyambung hirup, dan lain-lain.

Apa itu salah…? Saya kira tidak, tidak salah sama sekali. Dalam kondisi seperti itu, wajar jika orang-orang menjadi panic dan tak mampu mengendalikan emosi bahkan pikirannya. Namun jangan terlalu berlebihan karena hidup harus tetap berjalan, dan untuk hidup tidak akan cukup hanya dengan menggantungkan diri menanti bantuan.

Ketabahan dan ketegaran Kasman, sekali lagi sangat menggugah diri saya. Di sini, di mana saya berada, di kota besar dengan kumpulan banyak sekali manusia dengan latar belakang berbeda-beda saya nyaris tak pernah berpikir seperti Kasman. Tak terbayangkan sedikit pun dalam pikiran saya jika tak bekerja, akan hilang rezeki dari Tuhan.

Saya setuju dengan penapatnya. Rezeki memang Tuhan yang mengatur, Tuhan menganugerahkan rezeki bagi hamba-hambanya. Apa kita harus menunggu hingga rezeki itu datang..? Tentu saja tidak. Kasman benar, jika tidak bekerja rezeki akan hilang.

Bagaimana bisa…? Manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seorang suami bekerja untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Pekerjaan yang dilakukannya merupakan ibadah. Jika pekerjaan itu dilakukan dengan ikhlash dan ridho, penuh semangat dan kejujuran maka hasilnya akan sangat baik. Penuh berkah.

Semangat bekerja bisa juga semangat beribadah. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada-nya. Ketika manusia giat beribadah, Tuhan akan senang. Ketika Tuhan senang, maka Ia tak akan segan-segan menganugeraahkan karunia-Nya yang tak terhingga bagi siapa saja hambaNya yang dikehendaki…

Akankan kita termasuk hambaNya itu…….……semoga..

lelet

Posted in radaserius on 14/10/2009 by sodix

Dalam kurun waktu 3-4 hari terakhir, saya lagi-lagi diserang penyakit ngantukan. Beberapa waktu lalu, saya memang sempet diserang penyakit ini, tapi sudah bisa sembuh dan bisa ngejalanin rutinitas normal lagi.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba penyakit ini muncul lagi, nyerang begitu saja dan saya tak kuasa menghindarinya. Serangannya yang sangat tiba-tiba membuatku tak mampu bertahan. saya ambruk, terlelap tidur, pada jam-jam yang enggak seharusnya.

saya sempat mikir, itu mungkin normal saja karena rutinitas yang saya lakukan sehari-hari. Tapi akhirnya ide itu gugur setelah penyakit ngantukan itu tak juga sembuh setelah 2 hari.

Pada hari-hari normal, saya biasa melakukan kegiatan sejak pukul 05.00 pagi. Meski jadwal bangun pagi sudah dimulai sejak pukul 03.00 dinihari, namun setelah itu saya biasanya tidur lagi. Lumayan sembari nunggu Subuh. Baru setelah jam 05.00 kegiatan berjalan normal.

Pada hari-hari tertentu kegiatan dimulai dengan menyimak siraman rohani melalui radio. Kalo enggak begitu, rutinitas dimulai dengan ngetik apa saja, mulai ngebolak balik bahan skripsi, tulisan-tulisan ringan, hingga membuat catatan kecil untuk di upload ke blog.

Selain itu, tentu saja segelas kopi item engak pernah kelewatan. Repot rasanya, kerja ngelibatin otak tanpa asupan kopi item. Karena kopi itu mampu menambah semangat dan menimbulkan kembali gairah,,,,,,.

Pada malam harinya, tulis menulis kembali berlanjut. Setidaknya sebelum beranjak tidur setelah mata tak kuat lagi melototin monitor.

Sayangnya, kebiasaan itu terhambat akibat penyakit ngantukan. Untuk bangun pagi memang tetap dimulai pukul 03.00, kadang 03.30, setelah itu tidur lagi dan bagun lagi pukul 05.00. parahnya, sekarang bukan siraman rohani atau tulis-tulis kegiatan berikutnya, melainkan kembali tidur merajut mimpi.

Pukul 06.45 saya baru bisa bangun, muter frekuensi radio nyari lagu yang agak bising biar gak tidur lagi, lalu disambung dengan mandi pagi. Habis itu, laptop belum bisa dibuka karena badan terasa lemes banget, mungkin kebanyakan tidur. Akhirnya, kegiatan hanya berkutat seputar frekuensi radio, males-malesan.

Jam 08.15 atau 08.30 aku bergegas meninggalkan kamar kos, menuju Mbantul seperti biasanya. Rutinitas mencari dan mengolah informasi berlanjut hingga setidaknya pukul 17.00 atau lebih. Setelah itu aku pulang kembali ke kos, makan malam, mandi, dan seterusnya.

Namun, dalam beberapa hari terakhir kegiatan malam hari nyaris tanpa bisa dibarengi tulis-tulis meski sekedar mencurahkan uneg-uneg. Ya sangat enggak bisa, karena saya biasanya langsung tertidur begitu yoba bersantai sebenar sembari ngedengerin musik….. wah-wah, payah memang…

Lebih fatal lagi, aku merasa serangan penyakit ini membuat produktivitas saya semakin lelet saja. Nyaris sama tidak produktifnya ketika saya tak bisa melepaskan diri dari jeratan jaringan facebook…..

ngantuk wal capek

Posted in rada eling on 11/10/2009 by sodix

lpg19