Si Merah

Posted in self titled on 23/10/2009 by sodix

Setelah seharian istirahat total untuk memulihkan kondisi fisik pasca kecelakaan Rabu lalu, hari Jumat (23/10) ini, saya kembali beraktivitas seperti biasa. Muter-muter keliling kota, desa di Bantul mencari informasi yang dinilai layak diketahui publik.

Hany saya kali ini saya harus merelakan diri berangkat agak siang, maklum harus nunggu jemputan dulu. Si merah yang biasanya menemani, belum pulih benar fisiknya, dan masih nginep di bengkel.

Rencananya siang nanti, si merah akan saya ambil. Setelah itu, kembali digunakan seperti sebelumnya.

Memang ada niatan untuk mengandangkan saja kendaraan itu. Kata orang. Kalau kendaraan sudah dibawa jatuh maka akan terus begitu. Tapi saya enggak peduli, selain karena itu kendaraan satu-satunya yang saya gunakan, saya terlanjut sayang dan cocok dengannya.

Kecelakaan kemarin juga bukan sepenuhnya karena faktor kendaraan, melainkan pengendara dari belakang yang sembarangan.

Saya dan si merah seolah menjadia pasangan serasi yang tak mungin dipisahkan. Si merah adalah madu saya. Namun dia tak pernah mrah, tak pula rewel mintaa ini itu. Mungkin karena saya selalu memperlakukannya dengan baik, selalu memanjakannya.

Apa pun kata orang, saya berketetapan hati tidak menjualnya atau mengandangkannya. Si merah adalah sahabat yang selalu setia menemani.

Menunggu Pemimpin Pilihan

Posted in politika on 23/10/2009 by sodix

Mengamati perkembangan politik di Kabupaten Bantul menjelang pemilihan kepala daerah itu pada Mei 2010, sungguh menarik. Tarik ulur kepentingan semakin terasa. Demikian pula dengan peta dukungan yang terus meruncing pada beberapa nama.

Hingga saat ini, setidaknya ada beberapa nama yang muncul ke permukaan. Selain sri suryawidati, istri Bupati Bantul saat ini Idham Samawi, Joko Purnomo yang menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Bantul, serta Sumarno PRS selaku dewan Pembina DPD Golkar.belakangan, muncul lagi nama GKR Hemas, permaisuri Raja Keraton Jogjakarta serta Gendut Sudarto yang saat ini menjadi sekda Bantul.

Salah seeorang fungsionaris partai mengatakan, munculnyabeberapa nama belakangan ini menjadi pertanda baik bagi proses demokrasi. Dia beralasan, semakin banyak calon yang maju akan memberikan pilihan yang lebih variatif bagi masyarakat yang dianggap sesuai dengan aspirasinya.

Aksi dukung mendukung pun tak kalah panasnya. Beberapa elemen masyarakat telah menyatakan dukungan bagi salah satu nama yang muncul. Yang bersangkutan, telah pula mengklaim didukung setidaknya 8 partai politik dan berbagai organisasi masyarakat (ormas) besar di Bantul

Apa itu benar, hanya dia yang tahu. Pasalnya, yang bersangkutan tak mau memberikan penjelasan partai mana saja yang siap mendukungnya, dan ormas mana saja yang siap berafiliasi dalam barisannya.

Di tingkat bawah, hingga menengah, aksi saling berebut pengaruh pun mulai menggeliat. Beberapa yang memiliki kepentingan mulai unjuk gigi dengan mengerahkan dan mengarahkan massa pada salah satu nama. Jika mau berhitung realisitis, upaya itu memang yang terlihat paling menguntungkan saat ini.

Atas nama rakyat kecil, para koordinator massa ini mempromosikan ‘jago’nya. Berbagai kegiatan pun digelar, mulai dari silaturahmi hingga penyerahan bantuan yang disisipi kampanye terselubung. Parahnya lagi, kegiatan-kegiatan itu berbau penyimpangan wewenang.

Bagi mereka yang tak peduli, mungkin tak menjadi soal. Namun bagi yang lai, kegiatan itu sungguh memprihatinkan meski memang lumrah terjadi. Kini tinggal bagaimana masyarakat menentukan pilihan. Bagaimana masyarakat bersikap cerdas dan bijak dalam menentukan siapa yang layak menjadi pemimpin mereka.

Nama besar saja kiranya tidak cukup untuk menjadi pemimpin tanpa kemampuan manajerial yang baik. Seorang pemimpin tidak hanya menjadi simbol bagi daerahnya, melainkan juga harus mampu membangkitkan semangat pengikutnya, menginspirasi mereka agar terus maju dan mengembangkan diri.

Seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi masyarakat luas, baik pendukung maupun penentangnya. Dengan begitu, dia akan menjadia pemimpin bagi semuanya.

Hari Rabu yang Naas

Posted in rada eling on 23/10/2009 by sodix

Hari Rabu (21/10) pagi, saya jalani seperti biasa. Bangun pagi, ngopi item bersama plus dua batang rokok LA merah, lalu berangkat beraktivitas. Saya tak tahu kalau hari itu adalah hari naas buat saya.

Seperti hari-hari sebelumnya, sesampainya di gedung DPRD Bantul saya menyempatkan diri baca Koran. Selain menambah informasi juga untuk menggali inspirasi pagi, sebagai bahan referensi. Beberapa ide muncul, namun belum dilakukan karena berbagai kendala. Kegiatan pagi itu akhirnya hanya duduk-duduk santai di depan gedung sembari menunggu rapat gabungan TAPD-DPRD selesai.

Tak lama berselang, telepon seluler berbunyi. Seorang kawan memberitahukan belasan siswa sebuah SMK mengalami kesurupan. Tanpa pikir panjang, saya dan dua orang lainnya bergegas menuju lokasi yang disebutkan. Di sana sudah ada beberapa orang berkumpul, sebagian lainnya sibuk mengumpulkan data dan mengambil gambar.

Saya yang baru tiba segera megabadikan momen itu dalam lensa kamera dan mengumpulkan data sebagai bahan berita. Setelah hampir satu jam di sana, kami memutuskan kembali ke dewan melanjutkan ide awal yang belum sempat tergarap.

Tak ada firasat apa pun saat itu. Saya mengendarai Jupiter Z saya dengan santainya. Maklum selain karena berboncengan, saat itu, saya berpikir tak perlu tergesa-gesa karena suda punya beberapa bahan berita yang belum digarap sebelumnya. Arus kendaraan di sepanjang Jalan Parangtritis, Bantul siang itu tak terlalu ramai. Di depan saya ada beberapa kendaraan roda dua. Ada yang ngebut, dan banyak juga yang santai.

Salah satu kendaraan merek Honda Astrea rupanya hendak berbelok arah kanan tiba-tiba. Karena tak menghidupkan lampu sein, kendaraan dibelakangnya yang juga Honda namun jenis Mega Pro mencoba menghindar dengan menggoyang kendaraan ke sisi kanan. Saya pun demikian, karena tak ingin menabrak Honda Astrea di depan saya.

Saat itu, saya lega karena berhasil melewati kendaraan itu. Namun saya tersentak kaget karena tiba-tiba kendaraan saya oleng dan terjatuh, terlempar beberapa meter dari tempat semua. Rupanya sebuah Suzuki Smash menghantam bagian belakang motor saya dari sisi kiri, karena saya tak melihat ada kendaraan di sisi kanan saya dari spion.

Kami terjatuh, dan ditolong beberapa warga yang kebetulan ada di lokasi. Awalnya saya lihat kendaraan saya tidak apa-apa. Hanya ada beberap yang rusk. Saya dan rekan saya juga sama, hanya mengalami sedikit lecet-lecet di tangan dan kaki. Saya pun memutuskan menganggap selesai saja peristiwa itu. Namun penabrak saya, tidak mau begitu, dia ingin agar persoalan itu diselesaikan orang tuanya. Saya menunggu.

Beberapa saat kemudian orang tuanya datang. Persoalan pun dibicarakan. Saya terus terang tak enak hati meski saya tahu saya di posisi yang benar. Akhirnya saya kembali memeriksa kondisi motor saya. Saya cek satu demi satu fisiknya, mesinnya dan seterusnya. Motor masih bisa menyala dengan baik. Namun spatbor belakang ternyata patah. Lampu rem, sein belakang hancur. Body sebelah kiri juga rusak.

Dudukan spion di depan juga patah. Pelek belakang bengkok. Dan kondisi motor pun tak senter lagi. Setelah dibicarakan, akhirnya orang tua penabrak sanggup mengganti sepatuh keruskan. Tanpa pikir panjang saya menyetujuinya. Saya pikir, tak ada salahnya menerima penawaran itu apalagi secara langsung orang tuanya menunjukkan tanggung jawab dan niat baik.

Motor saya bawa ke bengkel Yamaha di Jalan Bantul. Seteleh dikalkulasi perbaikan sementara diperkirakn menelan biata Rp 850 ribu lebih, entah kalau ada ambahan lagi lainnya. Perbaikan diperkirakan selesai dalam waktu 3 hari. Kami sepakat, biaya keruskan ditanggung 50:50 dan kami kembali bertemu saat pelunasan motor.

Meski begitu saya masih bisa bersyukur karena kerusakan masih dapat diperbaiki, dan kondisi badan saya tidak terlampau parah. Saya yakin ada hikmah di balik semuanya. Dan semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga buat saya sendiri terutama, di kemudian hari.

Kopi Item —

Posted in radaserius on 14/10/2009 by sodix

Beberapa saat setelah bangun di pagi hari biasanya, saya mencoba menyegarkan pikiran dengan mendengarkan musik. Kadang melalui radio, dan kadang melalui notebook, tergantung mood pada saat itu. Kalau sedang malas, biasanya saya hanya mendengarkan musik melalui radio sembari tiduran di atas kasur.

Tapi kalau sedang semangat dan ingin mendengarkan lagu-lagu tertentu, saya sengaja menyalakan notebook dan memilih lagu-lagu yang sanya anggap cukup inspiratif dan mampu membangkitkan semangat di pagi hari.

Kebiasaan seperti itu sudah lama sekali saya jalani, dan saya merasa cukup enjoy sekaligus terbantu dengan semua itu. Tapi, tetap saja ada satu hal yang tak bisa ditinggalkan mendampingi semuanya, yaitu secangkir kopi item.

Kopi item tampaknya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup saya. Bagaimana tidak, badan bisa terasa tidak karuan jika di siang hari saya tidak sempat menemukan segelas kopi item. Begitu juga di malam hari, ada yang kurang rasanya kalau tidak sempat meminum secangkir saja kopi item.

Saya sendiri mafhum saja dengan kebiasaan ini, mungkin karena memang sudah berlangsung sejak saya kecil dan masih tinggal di Lampung dulu. Di mana ngopi item menjadi suguhan utama saat bertamu ke rumah tetangga atau siapa saja di sana. Tidak ada teh anget, tidak ada yang lainnya selain kopi item.

Kadang kala, kalau dalam sehari saja bertamu ke lima rumah, maka lima gelas kopi item yang akan didapat sebagai suguhan. Tentu saja di luar camilan, berupa makanan kecil semisal gorengan dan sebagainya.

Ketika saya mulai menjalani hari-hari di Kota Gudeg, Jogja karena menempuh pendidikan di daerah ini, saya sempat meninggalkan kebiasaan ngopi meski tak sampai 100 persen. Kadang-kadang saya masih juga menyempatkan diri ngopi. Tapi kopi item diganti kopi sachetan yang dengan mudah bia didapat dari warung.

Kebiasaan ngopi item saya tinggalkan bukan tanpa alasan. Di sini, saya tak bisa menemukan kopi item yang rasanya istimewa. Tidak ada satu pun warung kopi yang bisa menyediakan kopi item yang rasanya sepeperti kopi buatan ibu saya, setidknya aroma kopinya begitu. Yang ada hanya kopi kapal api, dan lagi-lagi kapal api.

Agi sebagian orang, mungkin tidak ada perbedaan apakah itu kopi buatan sendiri atau kopi kapal api produuksi pabrik yang diminum. Asal bernama kopi item, tak masalah. Tapi bagi sya, tidak begitu. Aa sensasi tersendiri ketika menikmati secangkir kopi. Kopi dengan olahan sendiri memiliki keistimewaan dibandingkan kopi pabrik yang diproduksi secara massal.

Aroma kopi buatan sendiri lebih enak, rasanya pun lebih terasa, sangat terasa. Jadi, ada yang timpang rasanya ketika kopi made in sendiri harus digantikan kopi pabrik. Tapi itu pun tak akan terjadi lagi pada saya, karena sekarang saya sudah memiliki stok kopi item buatan ibu saya.

Mari ngopi item bareng…………………..

Rezeki Allah –

Posted in radaserius on 14/10/2009 by sodix

Membaca salah satu tulisan di harian Kompas, Selasa (6/10) sungguh membuat saya terenyuh dan malu. Judul tulisan sangat menarik, tajam dan menggugah perasaan, “Hilang Rezeki Dari Allah Jika Kami Tak Bekerja”,.

Membaca judulnya saja, saya sudah merasa malu dengan diri sendiri. Malu karena kadang-kadang tak mampu mensyukuri anugerah kesehatan yang dilimpahkan-Nya dengan melakukan hal-hal positif dan berguna bagi sesama. Melakukan kegiataan untuk kepentingan sendiri saja, kadang saya malas.

Tapi di sini, saya merasa terkena pukulan telak yang dilesakkan tepat mengenai ulu hati. Saya tak mampu berbuat apa-apa. Saya lemah, sempoyongan, dan terjatuh tak kuasa lagi menahan beban tubuh. Saya kalah.

Di Padang sana, di daerah yang sedang terkena musibah gempa dengan kekuatan 7,9 skala richter, orang masih mampu menyadarkan orang lain. Guncangan gempa tak membuat Kasman putus asa. Dia tetap tegar, tetap menjalankan rutinitasnya meski dalam keterbatasan.

Dia tak mengeluh ketika harus berjalan kaki sejauh 10 kilometer untuk mengais rezeki. Dia juga masih mampu berpikir logis dan tegar. Dia yakin, Tuhan tidak akan membebani hambanya di luar batas kemampuannya.

Di tengah kondisi serba kacau seperti itu memang tidak terlalu banyak orang seperti Kasman. Orang –orang tengah sibuk dengan urusannya masing-masing, mencari keluarga yang hilang, mencari bantuan untuk menyambung hirup, dan lain-lain.

Apa itu salah…? Saya kira tidak, tidak salah sama sekali. Dalam kondisi seperti itu, wajar jika orang-orang menjadi panic dan tak mampu mengendalikan emosi bahkan pikirannya. Namun jangan terlalu berlebihan karena hidup harus tetap berjalan, dan untuk hidup tidak akan cukup hanya dengan menggantungkan diri menanti bantuan.

Ketabahan dan ketegaran Kasman, sekali lagi sangat menggugah diri saya. Di sini, di mana saya berada, di kota besar dengan kumpulan banyak sekali manusia dengan latar belakang berbeda-beda saya nyaris tak pernah berpikir seperti Kasman. Tak terbayangkan sedikit pun dalam pikiran saya jika tak bekerja, akan hilang rezeki dari Tuhan.

Saya setuju dengan penapatnya. Rezeki memang Tuhan yang mengatur, Tuhan menganugerahkan rezeki bagi hamba-hambanya. Apa kita harus menunggu hingga rezeki itu datang..? Tentu saja tidak. Kasman benar, jika tidak bekerja rezeki akan hilang.

Bagaimana bisa…? Manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seorang suami bekerja untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Pekerjaan yang dilakukannya merupakan ibadah. Jika pekerjaan itu dilakukan dengan ikhlash dan ridho, penuh semangat dan kejujuran maka hasilnya akan sangat baik. Penuh berkah.

Semangat bekerja bisa juga semangat beribadah. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada-nya. Ketika manusia giat beribadah, Tuhan akan senang. Ketika Tuhan senang, maka Ia tak akan segan-segan menganugeraahkan karunia-Nya yang tak terhingga bagi siapa saja hambaNya yang dikehendaki…

Akankan kita termasuk hambaNya itu…….……semoga..

lelet

Posted in radaserius on 14/10/2009 by sodix

Dalam kurun waktu 3-4 hari terakhir, saya lagi-lagi diserang penyakit ngantukan. Beberapa waktu lalu, saya memang sempet diserang penyakit ini, tapi sudah bisa sembuh dan bisa ngejalanin rutinitas normal lagi.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba penyakit ini muncul lagi, nyerang begitu saja dan saya tak kuasa menghindarinya. Serangannya yang sangat tiba-tiba membuatku tak mampu bertahan. saya ambruk, terlelap tidur, pada jam-jam yang enggak seharusnya.

saya sempat mikir, itu mungkin normal saja karena rutinitas yang saya lakukan sehari-hari. Tapi akhirnya ide itu gugur setelah penyakit ngantukan itu tak juga sembuh setelah 2 hari.

Pada hari-hari normal, saya biasa melakukan kegiatan sejak pukul 05.00 pagi. Meski jadwal bangun pagi sudah dimulai sejak pukul 03.00 dinihari, namun setelah itu saya biasanya tidur lagi. Lumayan sembari nunggu Subuh. Baru setelah jam 05.00 kegiatan berjalan normal.

Pada hari-hari tertentu kegiatan dimulai dengan menyimak siraman rohani melalui radio. Kalo enggak begitu, rutinitas dimulai dengan ngetik apa saja, mulai ngebolak balik bahan skripsi, tulisan-tulisan ringan, hingga membuat catatan kecil untuk di upload ke blog.

Selain itu, tentu saja segelas kopi item engak pernah kelewatan. Repot rasanya, kerja ngelibatin otak tanpa asupan kopi item. Karena kopi itu mampu menambah semangat dan menimbulkan kembali gairah,,,,,,.

Pada malam harinya, tulis menulis kembali berlanjut. Setidaknya sebelum beranjak tidur setelah mata tak kuat lagi melototin monitor.

Sayangnya, kebiasaan itu terhambat akibat penyakit ngantukan. Untuk bangun pagi memang tetap dimulai pukul 03.00, kadang 03.30, setelah itu tidur lagi dan bagun lagi pukul 05.00. parahnya, sekarang bukan siraman rohani atau tulis-tulis kegiatan berikutnya, melainkan kembali tidur merajut mimpi.

Pukul 06.45 saya baru bisa bangun, muter frekuensi radio nyari lagu yang agak bising biar gak tidur lagi, lalu disambung dengan mandi pagi. Habis itu, laptop belum bisa dibuka karena badan terasa lemes banget, mungkin kebanyakan tidur. Akhirnya, kegiatan hanya berkutat seputar frekuensi radio, males-malesan.

Jam 08.15 atau 08.30 aku bergegas meninggalkan kamar kos, menuju Mbantul seperti biasanya. Rutinitas mencari dan mengolah informasi berlanjut hingga setidaknya pukul 17.00 atau lebih. Setelah itu aku pulang kembali ke kos, makan malam, mandi, dan seterusnya.

Namun, dalam beberapa hari terakhir kegiatan malam hari nyaris tanpa bisa dibarengi tulis-tulis meski sekedar mencurahkan uneg-uneg. Ya sangat enggak bisa, karena saya biasanya langsung tertidur begitu yoba bersantai sebenar sembari ngedengerin musik….. wah-wah, payah memang…

Lebih fatal lagi, aku merasa serangan penyakit ini membuat produktivitas saya semakin lelet saja. Nyaris sama tidak produktifnya ketika saya tak bisa melepaskan diri dari jeratan jaringan facebook…..

ngantuk wal capek

Posted in rada eling on 11/10/2009 by sodix

lpg19

Saya+Tuhan= Cukup

Posted in rada serius on 06/10/2009 by sodix

Melewati hari Minggu (4//9) kemarin terasa berat bagiku. Pertama, karena aku bangun kesiangan sekitar  pukul 07.30. Lalu, kondisi fisikku hari itu juga tidak fit yang berpengaruh besar pada aktivitas yang aku lakukan berikutnya, pada hari itu.

Nyaaris, hari Minggu kemarin kuhabiskan di atas tempat tidur. Bagaimana tidak, setelah bangun kesiangan, aku bergegas mandi, setelahnya mencoba mencari sarapan karena perut terasa sangat keroncongan. Setelah itu kegiatan kembali ke semula, kembali ke tempat tidur, dan bermimpi kembali hingga pukul 14.00.

Setelah jam itu, aku baru bisa beraktivitas sedikit normal, menurutku. Setidaknya, setelah jam tersebut aku berangkat ke kantor, mengirimkan jatah tugasku, ngecek email, status dan lain-lain. Kegiatan dilanjutkan dengan membaca Koran seperti biasanya. Mencaria referensi untuk tulisan, sekaligus mencari bahan perbandingan tulisan-tulisan bagus.

Sore hari, aku menyempatkan diri nelpon calon pendampingku nun jauh di sana. Sekedar berbagi informasi tak penting. Ya informasinya memang tak penting, namun komunikasinya tetap saja penting untuk menjaga agar hubungan terjalin dengan baik. Juga untuk menghindari kesalahpahaman sekaligus menumbuhkan rasa saling percaya.

Seperti biasa, kegiatan selanjutnya adalah mandi, lalu membuat catatan-catatan kecil, mendengarkan music, dan menunggu Maghrib tiba.

Selepas Maghrib, kepalaku terasa pening. Mungkin suntuk terlalu banyak tidur, atau mungkin juga suntuk karena tidak ada kegiatan menonjol yang aku lakukan hari itu.

Aku bergegas menuju kamr Mbah Imam. Kucari remot televisi dan segera kunyalakan. Tayangan di tv masih seputar gempa Sumatera. Namun ada juga yang sudah menayangkan sinetron tak berguna. Jujur aku muak melihatnya. Ada juga yang bersiap menayangkan balapan. Itu saja….

Tak menemukan acara bagus, aku memutuskan menunggu hingga pukul19.00. pada hari Minggu, di jam tersebut ada acara bagus yang sangat inspiratif. Yaitu Golden Ways Mario Teguh. Aku menjadi salah satu penggemar acara itu.

Terang sja, setelah pukul 19.00 acara segera dimulai. Tema kali ini adalah Saya+Tuhan =Cukup.

Saya tidak paham apa maksudnya, meski bisa sedikit membayangkan arahnya. Saya bermakna luas, namun saya adalah sya di masa ini, bukan saya di masa lalu. Karenanya, jika saya saat ini saya masih dibarengi sifat-sifat buruk, angkuh, sombong, maka sya masih menjadi saya masa lalu. Bukan saya masa kini. Saya masa kini, saya saat ini adalah saya sebagai pribadi yang bersih dari sifat-sifat buruk itu.

Saya+Tuhan= Cukup. Banyak juga hadirin yang tidak setuju dengan pendapat itu. Ada yang bilang, jika hanya saya dan Tuhan, maka kita menafikan peran orang lain di sekitar kita. Jawabnya, saya plus Tuhan sama dengan cukup, karena saya yang bersih plus Tuhan akan melahirkan sifat-sifat terpuji. Saya akan berani, saya akan peduli an seterusnya. Jika sudah begitu, orang di sekeliling pun akan bangga. Dan karenanya, saya bisa berperan lebih untuk orang lain…………………………..

Lalu kapan itu cukup. Itu cukup kalau kita benar-benar hanya menyerahkan semuanya pada Tuhan. Dalam doa, kita meminta pada Tuhan. Agar doa itu dikabulkan, kita hanya meminta kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Tidak meminta kepada orang lain, meminta kepada oknum lain yang akan menyaingi Tuhan.

Saya plus Tuhan sama dengan cukup, saat kita bisa membagikan dan memberikan pemberian-Nya kepada orang lain. Orang yang tidak pernah member, selalu merasa harus mempertahankan apa yang dimilikinya. Dan orang yang gemar memberi, selalu merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya….

Karena itu, semakin banyak memberi semakin mudah mendapakannya. Dan itu benar. Sungguh sangat-sangat benar… Aku tak pernah meyangsikan hal itu….

Namun, saya+Tuhan=cukup memang tidak mudah. Aku kira perlu latihan terus menerus agar bisa menerapkan formula ini……

Gempa vs Ayat-Ayat

Posted in radaserius on 05/10/2009 by sodix

Gempa Sumatera terjadi 5 hari lalu (30/9). Hingga saat ini proses evakuasi masih terus dilakukan Satkorlak penanggulangan bencana. Jenazah korban gempa yang mulai membusuk, terus ditemukan. Masyarakat sekitar mulai menggunakan masker, untuk menjaga kesehatan dan menghindari bau mayat korban yang begitu menyengat.

Persoalan tidak hanya itu, bantuan yang datang masih belum mencukupi kebutuhan. Kegiatan ekonomi belum pulih benar, meski banyak masyarakat mulai menjalankan roda ekonomi untuk mengambung hidup.

Di luar semua itu, duania maya, terutama jejaring pertemanan facebook pun tak henti-hentinya dihiasi berbagai status mengenai gempa Sumatera. Ada yang meminta dukungan, mengajak yang lainnya untuk membantu para korban, dan masih banyak lagi.

Yang terbaru, adanya beberapa status di facebook yang mengaitkan waktu gempa terjadi dengan beberapa ayat dalam kitab suci. Waktu gempa terjadi disinkronkan dengan isi yang tercantum dalam ayat-ayat tersebut. Dan hasilnya, sungguh tak disangka-sangka….

Sesungguhnya, hal itu sudahlah banyak disampaikan dalam setiap bencana yang terjadi di negeri ini. Bagi kaum agamawan, gempa terjadi karena manusia mulai melupakan Tuhan. Manusia berbuat semunya, kemaksiatan dan kejahatan tersebar di seantero negeri. Hasilnya Tuhan memberikan peringatan atau hukuman dengan menurunkan bencana.

Bagi yang lainnya, gempa terjadi karena factor-faktor yang sesungguhnya sangat rasional. Di mana, bumi Indonesia misalnya, berada di jalur gempa. Bahkan, bencana lain semisal banjir dan sebagainya suidah bisa diprediksi jauh-jauh hari, akibat penggundulan hutan yang tak terkendali. Semuanya cukup masuk akal dan bisa diantisipasi…

Secara pribadi, aku sendiri merasa terusik dengan beberapa status yang mengaitkan waktu gempa dengan beberapa ayat kitab suci. Mungkin itu sebuah kebetulan, mungkin juga tidak. Namun, aku merasa momentum di mana sebagian saudara-saudara sebangsa tengah menderita, membutuhkan pertolongan, membutuhkan dukungan moril dan materiil, sangat tidak pas jika dibarengi status atau stateman apa pun yang sama sekali tidak membantu.

Mungkin itu bisa mengingatkan masyarakat, bahkan semuanya, namun cara itu kiranya tidaklah tepat. Banyak cara yang lebih elegan yang bisa dilakukan, bahkan aksi nyata lebih dibutuhkan ketimbang hanya menorehkan sesuatu yang dapat menambah luka lara.

Hai para pembuat status sadarlah, apa yang ada lakukan tidak berguna sama sekali……… Mulailah berpikir memberikan kontribusi yang lebih nyata bagi para korban gempa, yang juga saudara sebangsa setanahair…………………………….

lemeees

Posted in radaserius on 05/10/2009 by sodix

Minggu (4/10), tak seperti biasanya aku bangun kesiangan. Jam 7.30 aku baru saja bangun. Padahal biasanya jam 04.00 saja aku sudah bangun, atau kalau pun kesiangan paling-paling hanya sampai jam 06.00 pagi. Tapi hari ini, aku benar-benar kesiangan.

Malam harinya sebelum aku tidurr, aku sengaja menset alarm pukul 03.30. maklum selain belum sembahyan Isya, aku juga berencana melakukan beberapa hal seperti menulis berita, membuat sedikit catatan-catatan dan lain-lain.

Namun apa lacur, aku kesiangan dan semua rencana itu musnah begitu saja. Aku tak bisa berbuat banyak, menyesal pun rasanya percuma. Semua telah berlalu. Mungkin besok lagi, tidak terulang demikian, tapi siapa bisa menjamin. Aku sendiri tak bisa.

Saat terbangun, badanku tak karuan rasanya. Akumulasi pegel-pegel, pusing, lemes, laper,dan seterusnya berkumpul menjadi satu. Belum lagi, suasana sekitar yang cukup berisik akibat banyaknya orang yang sedang berbincang-bincang dengan volume suara seenaknya. Ingin rasanya kuberangus atau kutampar satu demi satu mulut orang-orang itu.

Keinginan itu semakin kuat terutama setelah terdengar suara mesin motor nyala dan melintas di depan kamarku. Walah dasar kampret. Tak punyapikiran, gumamku.

Sejenak kulihat pisau yang kugunakan mengiris kulit mangga tadi malam. Cukup mengkilap dan sangat dekat dari jangkauan. Aku pikir, haruskah kutikam saja mereka satu demi satu.

Belum lagi selesai berpikir, rasa lemas kembali menyerang. Asataga, kali ini lemasnya tak tertahankan, membuatku yang semua sudah dalam posisi duduk kembali terbaring.

Aku kira 15-20 menit lamanya aku terbaring di atas sejadah. Dingin lantai semen berlapis karpet plastik menusuk-nusuk tulangku. Perut, tak lama kemudian terasa mual, dadaku sesak, dan kepalku pusaing lalu berkunang-kunang. Aku tak tahu mengapa, namun itu memang benar terjadi. Sungguh merepotkan.

15 menit kemudian, aku memaksakan diri bangun dan berbegas amenuju kamar mandi. Mandi, gosok gigi, keramas, dan lain-lain. Berbeda dengan Mbah Surip aku tidak kembali tidur setelahnya.

Semuanya selesai…namun rasa lemas  itu masih ada….